Perbedaan Pandangan & Sikap dalam Islam

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, seolah seperti kepastian bahwa apel pasti jatuh ke tanah, bukan naik ke luar angkasa. Termasuk yang namanya perbedaan dalam Islam, itu juga pasti terjadi.

Loki Damai Meskipun ada perbedaan

Dalam Islam, perbedaan dalam penafsiran itu sudah terjadi. Mulai dari yang paling lunak, hingga yang paling keras, sudah pasti ada. Untuk itulah diperlukan namanya kebijaksanaan dalam beragama. Kebijaksanaan dalam Islam yang didasarkan pada tujuannya, yakni menjadi rahmat bagi alam semesta.

Bagaimana menyikapi perbedaan dalam Islam?

Dalam tulisan ini saya tidak ingin menggurui siapapun. Saya hanya membagi pengalaman saya yang selama 25 tahun berinteraksi dengan berbagai macam orang. Hm, bisa disingkat kurang lebih 10 tahun terakhir, lebih intens berinteraksi dengan orang-orang yang menyebut dirinya Salafi, NU, Muhammadiyah, Tareqat, Islam Nusantara, dan lain-lain. Bagi saya, semua itu hanyalah label.

Saya sendiri tidak menyukai yang namanya label, kecuali kalo di toko atau supermarket, karena itu memudahkan kita melihat harga. Hehehe. Saya sih hanya mengakui bahwa seseorang Islam, jika:

  • Syahadatnya sama, nggak?
  • Sholatnya ngadep kiblat, nggak? Lima waktu, kan?
  • Puasa bulan Ramadhan, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, kan?
  • Bayar zakat mal dan zakat fitrah?
  • Haji dan Umroh-nya masih ke tanah Haram, kan?

Selama rukun Islam-nya sama dan sepakat bahwa itulah yang terpenting, maka tidak ada masalah bagi saya. Seseorang menyebut dirinya NU, Muhammadiyah, Jama’ah Tabliqh, Islam Nusantara, atau apapun itu, tak ada masalah. Selama saya aman bersamanya, dia menjaga kehormatan dan harta saya, mengingatkan dalam kebaikan, maka dia adalah saudara seiman. Sesederhana itu saya memandang perbedaan.

Berkhusnudzon lebih membahagiakan

Dulu ada seseorang yang menasehati saya, mengutip dari al-Quran bahwa tidak baik berprasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa. Maksudnya sebagian adalah sebagian yang buruk atau su’udzon. Lalu saya berpikir, kedua hal tersebut membutuhkan energi dan pikiran, kenapa kita tidak memilih yang baik saja? Termasuk dalam menghadapi yang namanya perbedaan dalam beragama.

Saya lebih menyukai pemikiran sederhana, bahwa setiap orang, terlepas dari apapun “aliran” yang dianutnya, hanyalah kebenaran yang diinginkannya. Saya tidak ingin menebak apa alasan seseorang mengikuti suatu jalan karena hanya dia dan Allah yang tahu. Ya kecuali kalau dia cerita alasannya ke saya, barulah saya tahu kenapa. Sebaliknya, saya tetap berpendapat bahwa semua orang mencari kebenaran.

Jikalau nyata-nyata sesat, nampak dengan jelas, tentu saja saya tidak akan tinggal diam. Saya akan berusaha menasehati seseorang yang seperti itu. Tentu saja saya tidak akan memaksanya, hanya menasehati dengan cara dan kalimat yang paling baik, saya ulangi, ulangi dan ulangi lagi setiap saya bertemu dengannya. Saya hanya akan berhenti jika orang tersebut secara terang-terangan menyatakan bahwa saya harus berhenti menasehati dia.

Ya, namanya saja mencari kebenaran, berarti kan belum dapat. Saya sendiri sebenarnya sedang dalam pencarian, demikian juga anda, kita, pak Kyai, pak Ustadz dan semua umat manusia. Semua memiliki jalan masing-masing, tidak sama satu dengan lainnya. Jadi jangan dipaksa-paksa suruh disuruh sama. Menyeru kepada jalan yang lurus adalah keharusan, namun tidak harus dengan jalan keringat dan darah.

Masing-masing dari kita memiliki sisi ekstrem dan radikal, maka disitulah kita diuji oleh Allah. Apakah kita cinta dengan ego kita atau cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana dengan anda?

Artikel ini diterbitkan pada

Seorang yang percaya hari akhir dan mencari Tuhan melalui ilmu pengetahuan. Mengerti PHP, Wordpress dan Linux. Namun masih saja menggunakan Windows 7 sebagai sistem operasi utama. Mau tanya apa saja atau bahkan curhat sama penulis ini, hubungi saja melalui formulir kontak disini. Pasti dibalas, kok!

Kirim pendapat

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Hanya Lewat ID. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.