Menegakkan Kebenaran Harus dengan Kebiadaban?

Kita sebut saja namanya Combro, bocah berusia 15 tahun. Bocah ini bejat, ya, bisa dibilang begitulah. Di usia segitu, dia berani ngajak “pacarnya” yang sudah berusia 17 tahun, sebut saja Bunga, untuk berbuat mesum ketika rumahnya sedang kosong.

Amputasi Alat Vital

Si Combro sedang di RS. Sumber: Kaskus.

Tak disangka tak dinyana, ternyata “pacarnya” ini tak setuju, lantas melapor kepada keluarganya. Marahlah keluarga Bunga mendengar aduan tersebut. Si Combro pun didatangi sepasukan dari keluarga Bunga dan mereka menghakiminya. Combro ditelanjangi lalu diseretnya di jalanan. Bahkan menurut kabar, si Bunga sendiri juga ikut menendang-nendang pantat si Combro ini. Kemalangan tak dapat dicegah, si Combro pun dihakimi warga. [Sumber: Kaskus]

Si Combro akhirnya diselamatkan oleh pak Polisi yang baik hati, diamankan di polsek dan dibawa ke RS. Kabar terakhir yang beredar adalah alat vitalnya harus diamputasi karena terluka parah akibat penganiayaan tersebut. Seorang kaskuser membuat update dan dikuatkan oleh kaskuser lain yang mengaku sebagai sepupu si Combro. Sungguh sebuah nasib yang sangat tragis. Saat membaca berita itu aku juga ngerasa “ngilu” gitu. Masa depannya gelap ituh. 🙂

Haruskah menegakkan kebenaran dengan cara kekerasan?

Pada awal aku judul beritanya, reaksiku sama dengan lainnya. Ya anggaplah seorang bejat pantas menerima hukuman dipermalukan di muka umum. Namun setelah membaca lengkapnya, apalagi mengetahui bahwa si Combro ini harus diamputasi, membuat aku jadi berpikir ulang dan mulai mempertanyakan perlunya hal tersebut dilakukan. Apakah tidak ada jalan lain untuk menghukum seseorang yang melakukan kesalahan?

Aku tidak menafikkan bahwa si Combro ini memang jahat. Namun orang yang tega merenggut alat vital dari seorang pria tentu tidak bisa dibilang baik. Meskipun hal ini tidak akan terjadi jika si Combro tidak “main-main” dengan anak orang. Akan tetapi sebagai makhluk berakal, kita diberikan pilihan bagaimana menangani masalah. Baik itu kegagalan, kekecewaan, pengkhianatan dan lain sebagainya. Apakah kita akan menggunakan jalan kekerasan atau menggunakan jalan musyawarah.

Hukuman seharusnya merupakan bentuk kasih sayang

Jujur, saya menyesalkan dan merasa prihatin akan kejadian ini. Proporsi hal-hal yang tidak manusiawi semacam ini yang harus kita kurangi bahkan kita lenyapkan. Memang kita tidak bisa berharap aparat kepolisian menyelesaikan kasus yang baru bisa dibilang sebuah “ajakan berbuat mesum” tersebut, tetapi paling tidak antar keluarga kan bisa saling berdialog untuk menentukan hukuman apa yang pantas untuk si Combro.

Misalnya suruh saja nyapu jalan, sambil bawa plakat di depan dan belakang tubuhnya bertuliskan “saya cowok mesum” selama 3 hari berturut-turut di lokasi yang berbeda. Saya yakin, si Combro tidak akan berani mengulangi lagi apa yang coba dilakukannya kepada Bunga. Lha kalau semacam ini kan kasihan si Combro. Dia bahkan belum berbuat, tetapi mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada seorang pemerkosa.

Aku sepakat dan sepaham bahwa seorang yang bersalah harus dihukum, DENGAN SETIMPAL. Apakah hukuman untuk si Combro ini setimpal? Saya rasa tidak sepenuhnya. Bagaimana menurut kalian?

Artikel ini diterbitkan pada

Seorang yang percaya hari akhir dan mencari Tuhan melalui ilmu pengetahuan. Mengerti PHP, Wordpress dan Linux. Namun masih saja menggunakan Windows 7 sebagai sistem operasi utama. Mau tanya apa saja atau bahkan curhat sama penulis ini, hubungi saja melalui formulir kontak disini. Pasti dibalas, kok!

Kirim pendapat

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Hanya Lewat ID. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.